SMAN 72 Jakarta memutuskan melanjutkan pembelajaran daring. Sekolah menunda rencana kembali ke model instruksi hibrida. Keputusan ini muncul karena mayoritas orang tua belum memberi izin. Mereka belum menyetujui anak kembali ke pembelajaran tatap muka.

Pembelajaran jarak jauh juga memungkinkan siswa menjalani asesmen psikologis. Ini langkah penting pasca-ledakan di lingkungan sekolah.
Alasan Penundaan Pembelajaran Hibrida
Penundaan model hibrida menjadi fokus utama. SMAN 72 Jakarta awalnya berencana mengintegrasikan daring dan tatap muka. Namun, respons orang tua menjadi faktor penentu. Sebagian besar wali murid menyatakan keberatan. Mereka belum memberi persetujuan untuk kehadiran fisik anak.
Pihak sekolah memahami kekhawatiran ini. Mereka memprioritaskan keselamatan serta kenyamanan siswa. Oleh karena itu, sekolah menunda kembali ke kelas tatap muka. Sekolah menunggu situasi lebih kondusif dan aman.
Fokus pada Asesmen Psikologis
Asesmen psikologis menjadi agenda utama bagi siswa SMAN 72 Jakarta. Ledakan baru-baru ini meninggalkan dampak potensial. Dampak ini mungkin dirasakan para siswa. Sekolah merasa perlu mengevaluasi kondisi mental mereka.
Langkah ini bertujuan memberi dukungan komprehensif. Sekolah ingin memastikan kesejahteraan psikologis siswa. Asesmen membantu mengidentifikasi siswa yang butuh pendampingan. Ini menunjukkan kepedulian sekolah terhadap kesehatan mental komunitasnya.
Langkah Selanjutnya dan Komitmen Sekolah
Pihak SMAN 72 Jakarta terus berkoordinasi erat dengan orang tua dan pihak terkait. Sekolah akan mengevaluasi situasi secara berkala. Pertimbangan kembali ke pembelajaran hibrida akan dilakukan hati-hati. Ini terjadi setelah semua faktor keamanan dan kesiapan terpenuhi.
Keputusan akhir selalu mempertimbangkan masukan orang tua. Mereka juga merujuk hasil asesmen psikologis. Prioritas utama tetap pada keselamatan, kesehatan, dan kualitas pendidikan siswa. Sekolah beradaptasi dengan kondisi menantang ini.


2 Comments